DAKWAH TIDAK MEMINTA UPAH
Disampaikan dihadapan majelis taklim YSS, tanggal 6 November 2011 di Babadak Bogor.
Belakangan ini ada fenomena orang-orang muda berebut untuk satu profesi, bahkan profesi ini lagi menjamur dan berkembang pesat sampai-sampai profesi ini dilombakan.
Adalah profesi penceramah agama dan dakwah keagamaan. Fenomena ini sudah berubah menjadi kenyataan yakni pangsa pasarnya para penceramah. Dahulu orang agak sedikit enggan untuk menjadi profesi penceramah karena bayarannya sedikit. Tetapi akhir-akhir ini dimasa milenium ketiga abad ke-21, profesi sebagai penceramah terbuka lebar untuk meraih keuntungan dan kesuksesan apalagi mendapat dukungan dari media yang sudah barang tentu memformulasikannya dengan jangka-jangka iklan, dan notabene adalah sumber mengalirnya pundi-pundi keuangan. Mengapa digandrungi? Jawabannya adalah “profesi sebagai penceramah agama tidak memerlukan persyaratan yang rumit”, hanya berbekal ayat-ayat Al Qur’an dan hadits-hadits yang dihafal, ditambah ada keberanian serta merubah penampilan dalam berbusana, sudah layak sebagai penceramah??
Kita melihat keprihatinan belakangan ini banyak penceramah yang masih muda belia memamerkan hartanya yang diberitakan media, bukan kita iri, tetapi ingat “ucapan dan tindakan Rosululloh SAW yang amat bersahaja”. Lalu mengapa para uztad muda Indonesia memamerkan kekayaannya? Kita perlu mengkaji ulang! Apakah pantas seorang penceramah dan pendakwah agama disamakan dengan profesi artis! Jangan-jangan kita semua dalam kondisi yang buta hatinya? Yang buta pendengarannya? Yang buta akal pikirnya??
Setiap orang berhak untuk mencari penghidupannya dengan pekerjaan apapun, termasuk penceramah!!! Jangankan profesi sebagai penceramah, profesi seorang pelacurpun kita tidak boleh menghina dan mengecilkannya, cuma, apakah seorang yang berprofesi penceramah boleh menetapkan standarisasi upah???
Coba kita pertanyakan, sejauh mana pendalaman ilmu seorang penceramah tentang akidah-akidah Islam? Apakah tauhid dan keimanannya sudah teruji? Apakah dakwahnya sudah menyejukkan hati? Apakah tindakan dan ucapan sudah Islami??? Tentu kita perlu meluruskan fenomena penceramah dewasa ini! Karena urusan ini kelihatan sederhana tetapi sangat besar dampaknya bagi masyarakat!!!
Menurut guru-guru besar kita terdahulu yang mengisi hidupnya dengan bersahaja dan amat sederhana, tetapi memahami akidah-akidah Islam, mengatakan “bahwa pada dasarnya ulama itu dibagi menjadi dua”:
1. Adalah ULAMA MASYHUR, terkenal dengan banyak hartanya, banyak pengikutnya, banyak istrinya, banyak tanahnya, banyak penyimpangannya adalah ulama ubuddunya.
2. Adalah ulama MASTHUR yang tidak terkenal tetapi menjaga dengan baik kitab Al Quran dan mencontohkan hal-hal yang baik, lisannya berkata jujur apa adanya, penglihatannya tidak liar (karena takut akan azab Alloh SWT), pendengarannya digunakan untuk memahami firman Tuhan Alloh SWT, hatinya bersih, niat-niat yang tidak baik (yang bertentangan dengan Al Quran dan Hadits) dibuang ke tong sampah atau ke kali sampai ke laut. Pikirannya jernih dalam membimbing muridnya selalu dengan sifat kasih dan sayang, ulama ini mementingkan kehidupan akhirat daripada kehidupan duniawi. Tetapi masa kini kita telah melihat gejala-gejala hidup mewah di kalangan penceramah dan pendakwah keagamaan. Mereka lupa, bahwa Rosululloh SAW mengajarkan hidup “BERSAHAJA”
Ulama-ulama, kyai-kyai, uztad-uztad yang memakai pola masyhur terlihat dari ciri-cirinya:
A. Bila dipanggil berceramah meminta upah
B. Dakwahnya bersifat umum
C. Inginnya mendapat pujian dan sanjungan orang
D. Marah dan emosi bila diingatkan dari hal-hal yang keliru yang dilakukannya
E. Dalam ceramahnya gemar menjelekkan orang lain
F. Para santri dan pengikutnya lebih banyak kaum wanitanya
G. Berpakaian yang modis dan berharga mahal
H. Tersinggung kalau tidak dihormati
Adapun ulama masthur terlihat dari ciri-cirinya sebagai berikut:
A. Tidak akan menjawab bila tidak ditanya
B. Enggan dipublikasikan oleh media karena takut sombong!
C. Memilih hidup dipinggiran kota besar, karena menjaga diri dari hal-hal yang mengandung syubhat serta hal-hal yang berbau maksiat.
D. Mengutamakan Alloh dan Rosulnya
E. Mendidik dengan sabar dan ikhlas kepada muridnya, dengan tidak meminta bayaran!!!
F. Memberi contoh Akhlaqul Khorimah sebagai suri teladan
G. Perkataannya lemah lembut menyejukkan hati pendengarnya
H. Sebagai pemaaf yang tulus
I. Tidak lepas dari Al Quran dan Al Hadits
Untuk lebih memperjelas, maka kita simak dan pelajari Firman Alloh SWT dalam ayat Al Quran sebagai berikut:
Surat Shaad ayat 86, yang berbunyi:
86. Katakanlah (hai Muhammad): "Aku tidak meminta upah sedikitpun padamu atas da'wahku dan bukanlah aku Termasuk orang-orang yang mengada-adakan.
Surat Al Mu’minuun ayat 72, yang berbunyi:
72. atau kamu meminta upah kepada mereka?", Maka upah dari Tuhanmu[1012] adalah lebih baik, dan Dia adalah pemberi rezki yang paling baik.
[1012] Yang dimaksudkan upah dari Tuhan ialah rezki yang dianugrahkan Tuhan di dunia, dan pahala di akhirat.
Surat Al An’am ayat 90, yang berbunyi:

90. mereka Itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah, Maka ikutilah petunjuk mereka. Katakanlah: "Aku tidak meminta upah kepadamu dalam menyampaikan (Al-Quran)." Al-Quran itu tidak lain hanyalah peringatan untuk seluruh ummat.
Surat Yaasin ayat 21, yang berbunyi:
21. ikutilah orang yang tiada minta Balasan kepadamu; dan mereka adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.
Kita sudah menyimak petunjuk Al Qur’an melalui ayat-ayatnya, dan kita sudah membaca pertunjuknya, lalu mengapa kita mengabaikannya? Dan bukan mempelajari serta mengikutinya? Adakah dalam hati kita kekotoran??? Apa adakah pula kita tidak memakai akal kita untuk mengerti dan mengartikan ayat-ayat tersebut diatas?!?
Semoga tulisan ini bermanfaat bagi kita semua, ingatlah “benar itu belum tentu baik, tetapi didalam kebaikan ada satu butir kebenaran”. Marilah kita mencari kebenaran melalui petunjuk Al Quran dan Al Hadits menuju ridho Alloh SWT.
Disampaikan oleh:
H.MUHAMMAD SAID KUSUMA,
KETUA DEWAN PEMBINA YAYASAN SRI BIMA SEMAR JAYA PRAKOSA
JALAN MUARA BABADAK NO.88, RT.006/RW.07, KELURAHAN SINDANG RASA
KECAMATAN BOGOR TIMUR, BOGOR
Tidak ada komentar :
Posting Komentar